28 November 2013

Sosio-budaya Medis

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/25/0326331/malu.aku.jadi.dokter.indonesia

Malu Aku Jadi Dokter Indonesia

Sabtu, 25 April 2009 | 03:26 WIB
Lewat tulisan rumah (yang) sakit (Kompas, 14/3/09) Radhar Panca Dahana mengeluh buruknya layanan medik kita. Tulisan itu mewakili nasib banyak pasien. Yang diungkapnya fakta keresahan tak sedikit pasien kita. Betul harus diakui banyak pasien kita terpojok sebagai pihak yang dirugikan. Handrawan Nadesul
Resep dokter ditulis tak rasional, lebih banyak pasien berobat kalau punya uang saja, komersialisasi layanan medik, layanan medik dirasakan tak manusiawi. Itulah potret layanan medik yang dibaca dengan kacamata bukan orang medik. Saya ingin mengulasnya dari kacamata pekerja medik.
Membangun di hulu
Untuk menguak mengapa layanan medik kita meresahkan masyarakat, tugas dan kewajiban pekerja medik kita perlu dikenali masyarakat.
Lebih banyak rakyat Indonesia baru berobat kalau punya uang. Dua pertiga dari mereka tidak sekolah tinggi dan lemah kemampuan hidup sehatnya. Karena itu, arah pembangunan kesehatan kita jelas garisnya pencegahan.
Dengan konsep pencegahan (primary health care) kesehatan di hulu kita bangun. Pilihan itu dinilai lebih efisien. Lihat saja Banglades. Bukan sebab anggaran kesehatan dinaikkan maka Banglades lebih sehat dari kita, melainkan karena Banglades teguh melakukan layanan pencegahan.
Membangun di hulu ongkosnya jauh lebih murah. Karena jika hulu tidak dibangun, di hilir jumlah orang sakit terus meningkat. Karena angka penyakit meningkat, anggaran habis buat belanja obat. Belanja obat lebih mahal ketimbang ongkos bikin rakyat tidak sakit sejak di hulu.
Puskesmas menjadi tulang punggung pembangunan kesehatan di hulu. Namun, puskesmas bukan rumah sakit sehingga hanya mampu melayani satu dari lebih 12 program. Di sana, masyarakat kita yang masih belum melek sehat dilatih menjadi pintar agar tidak sakit. Namun tidak semua puskesmas mampu melakukan pembangunan di hulu. Akibatnya, rumah sakit masih seperti pasar malam. Yang dilayani melebihi kapasitas yang melayani. Maka, layanan medik cenderung tak profesional.
Konsekuensi sistem
Dari dulu sukar mengatur distribusi tenaga dokter. Semua dokter muda kepingin praktik di kota besar supaya lekas maju. Kalaupun mau di puskesmas, apalagi di daerah terpencil, mereka minta imbalan gaji atau janji spesialisasi. Hal itu normal, bukan saja sekolah dokter memakan waktu lama dan ongkosnya tidak kecil, tetapi juga pencitraan: bukan dokter kalau tak punya rumah dan mobil pribadi.
Citra kumuh dokter mengurangi kepercayaan pasien. Profesi dokter butuh faktor trust. Di mata pasien, lulus cum laude saja tak cukup, kalau dokter pergi praktik naik ojek.
Berbeda dengan dokter di negara dengan sistem layanan medik, citra profesi cukup dibangun dengan berpraktik di satu rumah sakit. Perhatian dan konsentrasi kerja dokter tak perlu pecah terbagi mencari tambahan di tempat lain.
Lebih berat
Bobot kerja profesi dokter kita jauh lebih berat daripada dokter negara maju. Pasien puskesmas bisa ratusan. Bagaimana bisa teliti memeriksa. Akibatnya, kesehatan gagal dibangun di hulu sehingga orang sakit terus meningkat.
Tugas dokter puskesmas bukan hanya memeriksa pasien. Dua pertiga jam kerjanya harus di lapangan untuk menyuluh, rapat dengan pamong, dan meninjau masyarakat.
Bobot kerja dokter rumah sakit juga melebihi ketika bekerja profesional. Tak heran kalau ada profesor kita yang salah membaca hasil rontgen. Tentu bukan karena kebodohan. Kasus malapraktik acap terjadi akibat bobot kerja dan kondisi profesi seperti dipikul rata-rata dokter kita.
Kekuasaan dokter
Harus diakui kekuasaan profesi dokter kelewat tinggi. Apa pun yang diminta dokter pasien hanya bisa patuh saja. Ketidaktahuan medik pasien membuat pasien tak berdaya di hadapan dokter. Moral dokter bisa tergoda mencari untung dari ketidaktahuan pasien.
Sekolah dokter mengajarkan agar menulis resep rasional. Kalau ada obat lebih murah dengan efek sama mengapa menulis yang lebih mahal. Kalau tak perlu dirawat atau wajib operasi, mengapa memilih memberatkan pasien. Sumpah dokter melarang memperlakukan pasien seperti nomor. Dokter wajib menjawab pertanyaan pasien, menjelaskan sebelumnya mengenai operasi yang akan dilakukan.
Industri medik juga meningkatkan overutilisasi alat pemeriksaan (karena memeriksa apa saja yang sebetulnya tidak diperlukan) menjadikan rakyat yang sungguh memerlukan akhirnya tak mendapatkannya sehingga mereka merasa diperlakukan diskriminatif. Di beberapa negara ada regulasi pembatasan jumlah pasien sehari. Kita tidak.
Sekarang terjawab mengapa kalau lebih sering muncul kasus malapraktik, kalau pasien lebih sering bertemu dokter yang tak ramah (misconduct). Sebagian muncul sebagai konsekuensi sistem kesehatan yang kita pilih, tingginya otonomi dokter, dan moral profesi yang goyah. Ditambah dengan struktur penggajian tenaga dokter dan kebijakan praktik dokter membuat masyarakat masih berpikir untuk berobat ke Ponari. Ketika rakyat masih memerlukan layanan kesehatan primer, industri medik malah terus menekan.
Sebagai dokter, tak patut bila karena potret buruk, cermin dibelah. Namun, karena profesi dokter masih dipagari oleh etika profesi, posisi saya serba salah. Otokritiknya, perlu solusi membangun ”praktik bersama” agar berlangsung proses tilik-sejawat (peer review) sehingga kekuasaan dokter tidak tanpa batas.
Untuk itu sistem kesehatan saatnya menggratiskan setiap warga negara. Kita mampu melakukannya. Pendidikan etika medik menjadi modul tersendiri bagi setiap calon dokter sehingga pembangunan kesehatan di hulu dapat berhasil.
Bila rakyat makin pintar sehat, makin kritis, dan skeptik, makin berkuranglah kekuasaan dokter. Dokter tak berani berpraktik seenaknya lagi. Kekuasaan dokter perlu dibagi untuk hak pasien. Hukum kedokteran saatnya ditegakkan. Walau tidak setiap kasus yang merugikan pasien adalah salah pihak medik, dan masih banyak dokter yang baik, tetapi jika perubahan di atas tak terjadi, malu aku jadi dokter Indonesia.
HANDRAWAN NADESUL Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, Penulis Buku

21 Agustus 2013

http://news.detik.com/read/2010/11/15/011100/1494118/10/batak-sebagai-nama-etnik-dikonstruksi-jerman-dan-belanda

Batak Sebagai Nama Etnik Dikonstruksi Jerman dan Belanda

Khairul Ikhwan - detikNews
Medan - Nama Batak sebagai identitas etnik ternyata tidak berasal dari orang Batak sendiri, tapi diciptakan atau dikonstruksi para musafir barat. Hal ini kemudian dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Simpulan ini dikemukakan sejarahwan Unversitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari yang baru usai melakukan penelitian di Jerman.

Di Jerman, sejarahwan bergelar doktor ini memeriksa arsip-arsip yang ada di Wuppertal, Jerman. Dalam sumber-sumber lisan dan tertulis, terutama di dalam pustaha, atau tulisan tangan asli Batak, tidak ditemukan kata Batak untuk menyebut diri sebagai orang atau etnik Batak. Jadi dengan demikian nama Batak tidak asli berasal dari dalam kebudayaan Batak, tetapi diciptakan dan diberikan dari luar.

"Kata Batak awalnya diambil para musafir yang menjelajah ke wilayah Pulau Sumatera dari para penduduk pesisir untuk menyebut kelompok etnik yang berada di pegunungan dengan nama bata. Tapi nama yang diberikan penduduk pesisir ini berkonotasi negatif bahkan cenderung menghina untuk menyebut penduduk pegunungan itu sebagai kurang beradab, liar, dan tinggal di hutan," kata Ichwan Azhari di Medan, Minggu (14/11/2010).

Dalam penelitiannya yang dimulai sejak September lalu, selain memeriksa arsip-arsip di Jerman, Ichwan juga melengkapi datanya dengan mendatangi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda. Dia juga mewawancari sejumlah pakar ahli Batak di Belanda dan Jerman seperti Johan Angerler dan Lothar Schreiner.

Hasilnya, pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik yang ditelusurinya, seperti manuskrip abad 17 koleksi Leiden, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Dalam manuskrip itu, saat Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511, Puteri Gunung Ledang yang sangat dihina dan direndahkan oleh teks ini, melarikan diri ke hulu sungai dan dalam teks itu disebut, "... masuk ke dalam hutan rimba yang amat besar hampir dengan negeri Batak. Maka diambil oleh segala menteri Batak itu, dirajakannya Puteri Gunung Ledang itu dalam negeri Batak itu."

Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Untuk itu menurut Ichwan, cukup punya alasan dan tidak mengherankan kalau peneliti Batak terkenal asal Belanda bernama Van der Tuuk pernah risau
dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan nama Batak untuk nama etnik karena imej negatif yang terkandung pada kata itu.

"Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu," katanya.

Disebutkan Ichwan, para misionaris itu sendiri awalnya ragu-ragu menggunakan kata Batak sebagai nama etnik, karena kata Batak tidak dikenal oleh orang Batak itu sendiri ketika para misionaris datang dan melakukan penelitian awal. Para misionaris awalnya menggunakan kata bata sebagai satu kesatuan dengan lander, jadi bata lander yang berarti tanah Batak, merupakan suatu nama yang lebih menunjuk ke kawasan geografis dan bukan kawasan budaya atau suku.

Di arsip misionaris yang menyimpan sekitar 100 ribu dokumen berisi informasi penting berkaitan dengan aktivitas dan pemikiran di tanah Batak sejak pertengahan abad ke-19 itu, Ichwan menemukan dan meneliti
puluhan peta, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat.

"Peta-peta itu memperlihatkan adanya kebingungan para musafir barat dan misionaris Jerman untuk meletakkan dan mengkonstruksi secara pas sebuah kata Batak dari luar untuk diberikan kepada nama satu kelompok etnik yang heterogen yang sesungguhnya tidak mengenal kata ini dalam warisan sejarahnya," tukas Ichwan.

Dalam peta-peta kuno itu, kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

Kebingungan para misionaris Jerman untuk mengkonstruksi kata Batak sebagai nama suku juga nampak dari satu temuan Ichwan terhadap peta misionaris Jerman sendiri yang sama sekali tidak menggunakan judul bata lander sebagai judul peta dan membuang semua kata Batak yang ada dalam edisi penerbitan peta itu di dalam laporan tahunan misionaris. Padahal sebelumnya mereka telah menggunakan kata Batak itu.

Kata Batak yang semula nama ejekan negatif penduduk pesisir kepada penduduk pedalaman, kemudian menjadi nama kawasan geografis penduduk dataran tinggi Sumatera Utara yang heterogen dan memiliki nama-namanya sendiri pada awal abad 20, bergeser menjadi nama etnik dan sebagai nama identitas yang terus mengalami perubahan.

"Setelah misionaris Jerman berhasil menggunakan nama Batak sebagai nama etnik, pihak pemerintah Belanda juga menggunakan konsep Jerman itu dalam pengembangan dan perluasan basis-basis kolonialisme mereka. Nama Batak juga digunakan sebagai nama etnik para elit yang bermukim di Tapanuli Selatan yang beragama Islam," tukasnya.


Berbagai aksi unjukrasa dan shalat gaib peduli mesir terjadi di sejumlah daerah di indonesia. Simak berita selengkapnya di "Reportase Malam" pukul 1.35 WIB Hanya di Trans TV

(rul/rdf)

10 Agustus 2013

Anak Jalanan Rentan Permasalahan

http://id.berita.yahoo.com/anak-jalanan-rentan-permasalahan-063543465.html

Anak Jalanan Rentan Permasalahan



Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Provinsi Jawa Barat menggelar acara Workshop Pengenalan Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja Usia 15-19 Tahun di Hotel Karang Setra, Senin (29/7/2013).
Workshop ini dalam rangka memberikan wawasan kepada anak jalanan dan salah satu upaya untuk mencegah perilaku menyimpang karena anak jalanan rentan terhadap berbagai permasalahan.
Menurut Sub Umum dan Humas BKKBN Provinsi Jawa Barat, Yeti Rosmiati, anak jalanan rentan dengan berbagai permasalahan terutama dalam hal kesehatan reproduksi. Fenomena yang terjadi banyak anak jalanan yang berprilaku menyimpang mengarah ke triad seperti seks bebas, napza, dan penularan HIV/AIDS.
"Mereka mengalami kendala dalam mengakses pelayanan baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, dan perlindungan hukum," katanya.
Fenomena lain yang bisa dilihat, anak-anak jalanan berkeliaran dan mangkal di setiap perempatan jalan raya. Mereka bukan hanya mengamen tapi terkadang ada yang sambil mengisap lem atau sejenisnya yang akan merusak fisik serta kesehatannya.
"Mereka tidak menyadari bahaya yang ditimbulkan dari perilaku-perilaku biasnya sesama teman sebaya di jalanan," katanya.
Menurut Yeti Rosmiati, anak jalanan juga merupakan generasi penerus bangsa. Untuk itu mereka butuh perhatian dari berbagai pihak.
"Apabila mereka kita biarkan dalam kondisi tidak sehat akan membahayakan anak bangsa kedepannya, karena anak-anak jalanan tersebut lebih senang dengan dunianya yang mereka jalani. Mereka butuh perhatian, perlu dirangkul dalam upaya untuk meninggalkan kebiasaan mereka yang tidak baik," katanya.
Menurutnya, umumnya anak-anak jalanan ini berusia antara 5-19 tahun terkadang ada juga 20 tahun ke atas. Mereka termasuk usia produktif dimana mereka yang seharusnya mengenyam pendidikan yang lebih baik. Namun pada kenyataannya mereka umumnya hanya tamat Sekolah Dasar (SD) karena keterbatasan kemampuan.
Untuk itu, mereka mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi agar dapat membantu dan memiliki pengetahuan sikap dan perilaku yang bertanggungjawab terhadap kesehatan reproduksinya.
"Dengan kegiatan seperti ini mereka diikutsertakan dalam kegiatan workshop agar mereka bisa merubah perilaku menyimpangnya," katanya. (tif)

29 Juni 2013

Fw: [DG] Bertobatlah Hai Pejabat Kemdikbud dan PTN yang Senang Bermain Api!

Salam hormat,

Fikarwin Zuska
Dep. Antrop USU Medan

From: "Fitri" <fitrith@hotmail.com>
Sender: DiktiGroup@yahoogroups.com
Date: Sat, 29 Jun 2013 01:17:37 -0000
To: <DiktiGroup@yahoogroups.com>
ReplyTo: DiktiGroup@yahoogroups.com
Subject: [DG] Bertobatlah Hai Pejabat Kemdikbud dan PTN yang Senang Bermain Api!

 

Bertobatlah Pejabat Kemdikbud dan PTN yang Terlibat dalam Permainan Kotor sebelum kedatangan Bulan Suci Ramadhan, semoga Allah SWT menghapus semua dosa Bapak dan Ibu, sehingga ibadah Bapak dan Ibu tak ditolak Allah SWT, amiin YRA.

InsyaAllah Minggu tanggal 30 Juni 2013 sudah bisa bawa suami menuju Singapore Heart Centre, semoga dana yang saya persiapkan bersisa sehingga bisa buat jaga-jaga bantu CPNS Unair 2012 yang Kejujuran Mengembalikan BPPS justru dibalas Pejabat Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan dengan PEMBATALAN CPNSnya.

Anak yang rajin dan agamis ini terancam tak bisa melanjutkan kuliah S3nya di Unair. Tragisnya Ketua yayasan PTS asal yang merupakan sahabat Dekan Keperawatan Unair malah jadikan TRAGEDI ini sebagai alat untuk menakut-nakuti semua dosen di lingkungannya agar jangan mimpi pindah homebase bila tidak ingin mengalami nasib buruk seperti Andri. Kejamnya dunia Pendidikan Tinggi, jauh lebih kejam dari Dunia Bisnis tempat saya mengabdi sehari-hari. Andri sebagai alumni STIKES Insan Se Agung sudah mengabdi selama 7 tahun di Institusinya, sebagai Kaprodi dia sudah berhasil membawa PTS asalnya terakreditasi Ban-PT, gaji terakhirnya ya Allah cuma setara UMP di kota kami, setara dengan honor yang kami bayar untuk SPG yang baru lulus SMA di salah satu couter kami.

Bayangkan aja dengan honor sekecil ini ybs sudah berusaha mematuhi ketentuan Permendiknas no. 48 tahun 2009 yaitu kembalikan BPPS demi tunaikan kewajiban ikatan dinasnya (jumlahnya tak sedikit lho... hampir 60 x honor yang dia terima tiap bulan di PTS asal). Padahal kita juga tahu BPPS berasal dari APBN, hanya demi selembar surat lolos butuh melancarkan pindah homebase ke Unair, dosen muda yang malang ini bersama kedua orang tuanya sudah JUAL HABIS SEMUA HARTA yang mereka miliki (semoga tidak sampai meninggalkan hutang, amiin).

Kenapa justru dia sudah dengan jujur kembalikan BPPS (tidak kabur dari kewajiban), setelah sudah kantongi SURAT LOLOS BUTUH dari PTS asal tgl 16 Januari 2013, KABIRO KEPEGAWAIAN KEMDIKBUD JUSTRU SETUJU KEPUTUSAN WR 2 Dr.Moh.Nasih.MT.Ak. dan Dekan Keperawatan Unair Bu Purwaningsih, S.Kep.,M.Kes (a.n.Rektor) batalkan CPNSnya. Di mana nurani Bapak dan Ibu hai Mendikbud Prof. Mohammad Nuh, Kabiro Kepegawaian Kemdikbud Prof. Totok Suprayitno dan Kabag Perencanaan dan Pengadaan CPNS Kemdikbud Dra Dyah Ismayanti, tak malukah Pejabat eselon 1 Kemdikbud diatur Pimpinan PTN bukan sebaliknya (aneh keputusan PTN ditindak-lanjuti Kabiro Kepegawaian, bukan permohonan atau usulan...). Tak malukah Bapak/Ibu membiarkan Kejujuran diinjak hanya karena Keegoisan yang ingin memecahkan persatuan dan kesatuan? Coba bila ada cucu cicit Bapak/Ibu di masa akan datang juga dizhalimi seperti ini, bagaiman perasaan Bapak dan Ibu ???

Saya sudah tempatkan 4 tulisan di web Kopetis XII yang masih menutupi nama-nama pihak yang terlibat, tulisan saya sudah cukup bantah alasan penolakan CPNS Andri, dasar agurmen saya adalah Produk Hukum Indonesia yang masih berlaku sampai saat ini. Pak Polisi aja mengaku Unair tak benar, penyidik sampai meneteskan air mata sewaktu menyidik dosen ybs, menurut info ada atasan mereka lulusan dari Unair, begitu juga Koodinator Kopertis 7 adalah GB yang bertugas di Unair dan jabatan Koordinator Kopertis yang dia peroleh adalah usulan Rektornya, dan bisa jadi ada juga pejabat kemdikbud juga dari Unair yang terlibat pembatalan cpns ini, penuh permainan kotor dan sarat kepentingan kesukuan.

SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MEMBIARKAN KEZALIMAN MENANG DI ATAS PENDERITAAN SEORANG PENDIDIKA MUDA YANG BERPOTENSI JADI PIMPINAN MASA DEPAN walau saya belum pernah bertemu dengan ybs bahkan gambaran wajahnya aja tak ada, InsyaAllah akan berusaha semaksimal membantu ybs selesaikan kuliahnya seandainya ternyata kasus penzaliman ini sudah terkuras habis harta mereka dan PERKARANYA DIKALAHKAN OLEH KEKUASAAN MANUSIA. Uang boleh habis, tapi jangan coba hancurkan harga diri seseorang, KEEP IN MIND melalui kekuasaan Allah SWT ybs masih memiliki orang-orang yang perdulikan nasibnya, tidak akan buntu jalannya kalopun KEKUASAAN MANUSIA SANGGUP MENANGKAN KASUS INI. SILAKAN TUTUP HATI BAPAK/IBU HAI PEJABAT KEMDIKBUD, UNAIR dan yang dekat dengan mereka.

Ini 4 tulisan yang sudah saya abadikan di web kopertis XII, belum buka nama-nama ybs, karena ingin fokus pengobatan suami dulu, bukan takut bakal dituduh pencemaran nama baik, kalo benar apa yang perlu ditakuti ? Saya hanya takut pada Allah SWT.

- Pak Mendikbud, Masih Adakah Nilai Sepotong Kejujuran di Wilayah Bapak ?
http://www.kopertis12.or.id/2013/06/16/pak-mendikbud-masih-adakah-nilai-sepotong-kejujuran-di-wilayah-bapak.html

- ALHAMDULILLAH ...
http://www.kopertis12.or.id/2013/06/19/alhamdulillah.html

- PTS bukanlah Instansi, PTS adalah lembaga...
http://www.kopertis12.or.id/2013/06/26/pts-bukanlah-instansi-pts-adalah-lembaga.html

- Keliru Batalkan Status CPNS Dosen, Siapa yang Layak Diajukan Ke PTUN sebagai Tergugat ?
http://www.kopertis12.or.id/2013/06/27/keliru-dalam-pembatalan-status-cpns-siapa-yang-layak-diajukan-ke-ptun-sebagai-tergugat.html

Profil lengkap:
Andri Setiya Wahyudi, S.Kep.,Ns.,M.Kes
- Kelahiran Juni 1982 di Pamekasan
- September Tahun 2006 lulus Sarjana Keperawatan di STIKES Insan Se Agung (Biaya Sendiri)
- September Tahun 2007 lulus Pendidikan Profesi Ners di STIKES Insan Se Agung (Biaya Sendiri)
- September Tahun 2010 lulus S2 Keperawatan di Unair, IPK 3,59 (Biaya Sendiri)
- S3 Ilmu Kedokteran di Unair, intake September Tahun 2011 (Sempat terima BPPS 15 bulan, sudah dikembalikan pada tanggal 16 Januari 2013) sekarang lagi di semester 4 (biaya sendiri).
- Lolos CPNS 2012 di Unair tempat dia studi S2 dan S3, diumumkan tanggal 24 Oktober 2012 di website Kemdikbud. Pemberkasan CPNS tgl 6 November 2012 sudah terlaksana di Unair. Tanggal 3 Januari 2013 terjadi Usulan Pembatalan SK CPNS sepihak dari Pimpinan Unair tanpa pernah menyampaikan SK CPNS tersebut. Tanggal 30 Januari 2013 Kemdikbud Kembalikan semua berkas CPNS Saudara Andri ke Unair dengan demikian proses NIP tidak diajukan ke BKN.

Ada rekaman pembicaraan:
1. warek 2 Unair (P. Nasih) tgl 16 Januari 2013,
2. P. Rahem (Ketua Stikes Insan Se Agung Bangkalan) : Beliau mengatakan klo dihubungi Dekan Keperawatan Unair utk membuat surat keberatan atas CPNS saya, tp beliau tdk bersedia membuat.
3. B. Suhartini (Ketua Yayasan) : beliau mengatakan klo surat keberatan Yayasan disuruh oleh Dekan Keperawatan Unair yang datang ke rumahnya (B. Purwaningsih).

Ada rekaman sms dari Koordinator kopertis 7 yang instruksikan Ketua Yayasan dan Ketua Stikes agar turuti kemauan Unair.

Rekaman-rekaman tersebut di atas tidak ada disampaikan dosen ybs ke pengadilan karena masih sayang pada institusi asalnya.

SEMOGA KEMENANGAN MILIK KEBENARAN, amiin YRA.
Salam, Fitri.

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
Gabung Facebook untuk grup yang sama:
http://www.facebook.com/groups/DiktiGroup
.

__,_._,___

18 Juni 2013

Fw: Metrotvnews.com - Siswa SD Dicabuli Oknum Pegawai BUMN

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: winfikar@gmail.com
Date: Fri, 14 Jun 2013 16:10:47
To: <winfikar.windeska@blogspot.com>
Reply-To: winfikar@gmail.com
Subject: Metrotvnews.com - Siswa SD Dicabuli Oknum Pegawai BUMN


http://www.metrotvnews.com/mobile-site/read/news/2013/06/14/161487/Siswa-SD-Dicabuli-Oknum-Pegawai-BUMN?utm_source=metrotvnews.com&utm_medium=twitter

Powered by Telkomsel BlackBerry®